BAB 1
Robot yang Diciptakan untuk Menang
Pukul 04.30 pagi, Bogor masih dibalut kabut tipis dan langit yang belum sepenuhnya biru.
Di lantai dua rumah megah bergaya modern minimalis, seorang remaja laki-laki
berdiri tegak di depan cermin besar. Wajahnya setampan poster iklan produk
kecantikan Korea, dengan rambut hitam legam tersisir rapi ke samping, dan sorot
mata yang tajam seperti laser—dingin, presisi.
Namanya Evan Laurent. Usianya baru lima
belas, tapi aura kedewasaan dan kontrol diri yang menyelubunginya membuat siapa
pun ragu menebak umurnya. Ia bukan hanya siswa baru SMA Prestasi Prima Bogor—ia
adalah legenda sebelum pelajaran pertama dimulai.
Di baliknya, sebuah papan jadwal harian menempel di
dinding, tertulis rapi dengan font digital:
04.30–05.00: Bersepeda Intensif
05.00–05.30: Ibadah
05.30–06.00: Sarapan & Persiapan
Semuanya teratur. Tidak ada ruang untuk
improvisasi.
Tanpa suara, Evan melangkah keluar kamar, mengambil
sepeda balap yang sudah menanti di garasi. Dalam kegelapan pagi yang sepi, ia
melesat di atas aspal basah, menyusuri rute sejauh 15 kilometer yang telah
dihitung algoritma khusus untuk membakar 500 kalori dalam 30 menit.
Di pergelangan tangannya, smartwatch berkedip:
Detak Jantung: 138 bpm | Kecepatan: 31.2 km/h
Catatannya muncul otomatis di layar:
*"Peningkatan kecepatan 1,2 km/h dibanding minggu lalu. Efisiensi
meningkat."*
Tak ada senyum. Tak ada rasa puas.
Di rumah, ruangan ibadah sudah tertata tenang.
Sajadah terbentang menghadap kiblat, Al-Qur’an bersandar di rak kayu jati. Evan
bersujud khusyuk, wajahnya tenang namun kosong. Selesai berdoa, ia membuka mata
dan langsung berjalan ke ruang makan.
Oatmeal, telur rebus, dan tiga butir kurma sudah
disiapkan di meja. Sambil mengunyah perlahan, ia membuka tablet—menyisir agenda
harian seperti jenderal mempelajari strategi perang.
"Asisten keluarga" yang berdiri di dekat
meja berbicara tanpa ekspresi:
“Lomba catur jam istirahat, latihan basket sore, dan evaluasi lukisan jam
sepuluh, Tuan Evan.”
Evan hanya mengangguk. "Pastikan
sepeda dibersihkan. Besok pagi jadwal interval naik tanjakan."
Kelas pertama dimulai. Matematika Lanjutan.
Saat guru baru selesai menulis soal integral di
papan tulis, Evan sudah mengangkat tangan.
*"∫(3x² + 2x – 5) dx dari 0 hingga 4."*
Dengan suara datar, ia menjawab, “Hasilnya
enam puluh.”
Tanpa kalkulator. Tanpa ragu.
Suasana kelas sunyi sesaat sebelum gumaman kagum
mengalir seperti bisik-bisik rahasia.
Guru hanya bisa mengangguk, tak bisa menyembunyikan rasa takjubnya.
Waktu istirahat bukan untuk bersantai. Di ruang
seni, Evan memegang kuas seperti teknisi mengutak-atik mesin. Kanvasnya
dipenuhi gradasi biru dan emas yang seimbang sempurna.
“Ini... luar biasa,” gumam guru seni, nyaris berbisik.
Evan tidak menjawab. Ia hanya mencatat: Rasio
warna 3:1:2. Simetri Fibonacci terpenuhi.
Di meja sebelah, seorang siswi menatap lukisan
mangga miliknya dengan wajah nyaris putus asa.
“Dia bahkan bisa bikin seni dengan rumus…”
Lomba catur kilat berlangsung spontan di ruang
klub. Dalam waktu lima menit, sepuluh lawan tumbang.
“Tanganmu manusia kan?” celetuk salah satu peserta.
Evan menerima piala kecil dari panitia, menatapnya
sejenak, lalu berkata, “Material ini tidak ergonomis. Desain ulang
sebaiknya mempertimbangkan distribusi berat.”
Yang lain hanya bisa menatap, bingung antara kagum
atau takut.
Ekskul olahraga pun bukan tantangan. Slam dunk,
tendangan melengkung, renang cepat—semua dilakukan dengan kalkulasi gerakan dan
rumus fisika. Pelatih hanya bisa geleng-geleng kepala, sementara Evan mencatat
detak jantungnya di clipboard digital.
Di ruang musik, ia menguasai piano, gitar, biola.
Dari Moonlight Sonata hingga Bohemian Rhapsody,
semuanya dimainkan dengan sempurna. Tapi ketika diminta menyanyi, suaranya
terdengar seperti robot bersuara autotune.
Seorang teman berbisik, “Dia kayak Spotify
Premium hidup-hidup…”
Pelajaran sosiologi membuka celah tak terduga.
“Bagaimana jika kalian melihat teman menangis?” tanya sang guru.
Evan menjawab cepat, seolah itu soal pilihan
ganda. “Analisis penyebab emosi. 73% tekanan akademis, 20% keluarga, 7%
hormon. Solusi rasional lebih baik dari pelukan.”
Suara Luna dari bangku belakang memotong:
“Duh… bisa nggak sih sekali aja jawab pake hati?”
Evan menoleh. “Empati tidak meningkatkan
efisiensi sosial secara signifikan.”
Jam enam sore. Mobil keluarga menjemput. Di kursi belakang, empat piala baru disusun
rapi. Sopirnya menoleh melalui kaca.
“Tuan Evan, ayah menelepon. Lomba robotik jam
delapan malam.”
“Baik. Saya kalkulasi waktu istirahat: 12 menit 45
detik.”
Angka-Angka di Bintang yang Tak Menjawab
Jam 20.17. Langit Bogor bertabur bintang.
Di balkon kamar, Evan duduk diam. Tablet di
pangkuannya menampilkan grafik orbit Mars dan Jupiter. Jari-jarinya mengetik
cepat:
"Jarak saat ini: 3,68 AU. Waktu tempuh roket: 1.143 hari."
Tapi malam ini, angka-angka itu terasa... kosong.
Dari kejauhan, terdengar tawa anak-anak yang
bermain petak umpet. Evan memiringkan kepala, seolah mendengar frekuensi asing.
Ia membuka catatan hitam—buku yang tak
pernah disentuh siapa pun selain dirinya.
Hari ke-1.823
• Menang lomba catur (rekor: 5’07”)
• Renang efisiensi +4.8%
• Masih belum memahami mengapa orang menangis
Contoh:
Rizal menangis saat kalah (solusi: latihan tambahan 2 jam/hari)
Guru seni menangis melihat lukisan (tidak logis: lukisan ≠ stimulus emosional)
Jam 21.00, alarm tidur berbunyi.
Evan menutup bukunya, menyimpannya di brankas bawah
tempat tidur, dan mematikan lampu.
Tapi malam itu, ia tak langsung tertidur.
Ia menatap bintang-bintang. Menggosok dadanya yang entah kenapa terasa sesak.
Pikirannya melayang:
“Apa gunanya menghitung jarak antarbintang… jika
aku tak tahu jarak hatiku ke manusia lain?”
Dan untuk pertama kalinya dalam 1.823 hari,
Evan tertidur tiga menit lebih lambat dari jadwal.
Komentar
Posting Komentar