BAB 2
Luna Amara dan Dunia yang Terlalu Lembut untuk Dihitung
Judul Adegan: "Hati yang Selalu Sibuk
Merasa"
Jam 06.10 pagi.
Luna Amara berlari kecil melewati jalanan kompleks dengan roti isi sambal dan
keju masih di tangan. Rambutnya dikuncir dua, pita pink-nya melambai-lambai
terkena angin pagi. Sepatunya sudah sedikit kotor oleh tanah basah karena ia
sempat berhenti sebentar untuk menyelamatkan seekor anak kucing dari got.
“Maaf, Mi! Aku telat lagi!” teriaknya sambil menyeberang gerbang sekolah.
Bukan karena malas bangun, tapi tadi ia membaca ulang puisinya yang belum
rampung—puisi tentang hujan, tentang rindu, atau mungkin tentang sesuatu yang
belum ia pahami sepenuhnya.
Sub-Adegan 1: Kelas, Krayon, dan Kata-Kata
Di kelas 10 IPS-1, Luna duduk di dekat
jendela. Di mejanya selalu ada tiga benda tetap: pensil warna, buku catatan
dengan sampul bergambar bulan, dan stiker bergambar alpaka (favoritnya
minggu ini).
Guru Fisika baru saja selesai menjelaskan Hukum
Newton Ketiga, dan Luna menulis di pinggir bukunya:
“Jika setiap aksi punya reaksi,
apakah rasa sayang yang kita beri akan kembali juga?”
Temannya, Nisa, melihat dan tertawa kecil. “Lu
nulis puisi di pelajaran fisika lagi, Lun?”
Luna hanya tersenyum. “Kalau semua rumus
bisa bikin hati tenang, aku nggak perlu nulis begini.”
Sub-Adegan 2: Serba Salah Jadi Kebiasaannya
Di kantin, Luna ingin memesan bakso pedas level 3.
Tapi di antrean ada anak kelas 12 yang badannya tinggi besar dan terlihat
galak. Luna akhirnya memesan seblak level 5 saja, meskipun dia
tahu bakal kepedasan dan air mata akan keluar—bukan karena sedih, tapi karena
cabai rawit.
“Kenapa nggak bilang aja, Lun?” tanya temannya.
“Aku takut ganggu dia. Lagian... nangis karena
pedas tuh semacam terapi, tahu nggak?”
Sub-Adegan 3: Klub Musik, dan Gitar yang Lupa
Disetem
Di ruang musik, Luna duduk memeluk gitar. Ia
memainkan melodi pelan—bukan lagu tertentu, hanya alunan yang terasa sore dan
manis. Guru musik lewat dan berhenti.
“Luna, kamu belum nulis partitur lagu yang minggu
lalu, ya?”
“Oh… maaf, Pak. Saya ganti lagu. Yang kemarin
terasa... kurang jujur.”
Guru musik itu tertawa pelan. “Kamu memang
susah ditebak.”
Sub-Adegan 4: Random Acts of Kindness
Sepulang sekolah, Luna singgah ke warung dekat
rumah. Ia membeli dua bungkus mi instan pedas, satu untuk dirinya,
satu untuk Pak Warso, penjaga sekolah yang selalu terlihat sendirian saat
istirahat.
Di perjalanan, ia juga:
- Membantu nenek-nenek menyeberang,
- Memungut botol plastik untuk daur ulang,
- Menyelipkan bunga kertas ke dalam loker temannya
yang sempat menangis minggu lalu.
Tidak ada yang menyuruhnya. Tapi Luna percaya,
kalau perasaan bisa dilukis, maka setiap hari harus punya warnanya sendiri.
Sub-Adegan 5: Malam, Musik, dan Surat Tak Terkirim
Jam 21.10, di kamarnya yang penuh gantungan origami dan lampu tumblr, Luna
membuka buku harian. Ia menempelkan satu tiket konser lama, lalu
menulis:
*Hari ini, aku merasa:
- Sedikit malu karena tumpah sambal di rok sendiri
- Senang bisa bantu si Meong kecil
- Bingung, kenapa aku tiba-tiba nangis waktu denger lagu “River Flows
in You”*
Catatan tambahan:
Haruskah aku berhenti terlalu peduli? Tapi… kalau aku berhenti merasa, aku
bukan aku lagi.
Di sampingnya, gitar akustik bergetar pelan terkena
angin dari kipas. Ia mengambilnya, dan mulai memainkan lagu kecil ciptaannya
sendiri. Liriknya belum selesai, tapi nadanya mengandung kerinduan pada sesuatu
yang belum pernah ia temui.
Penutup Bab
Di atas meja Luna, ada sebuah surat yang
belum pernah dikirim. Tertulis dengan spidol ungu:
*"Untuk seseorang yang belum aku kenal,
Aku harap kamu bukan cuma pintar…
Tapi juga bisa merasa.
Karena kadang, yang kita butuhkan bukan jawaban,
Tapi pelukan yang diam-diam berkata,
‘Aku paham.’”
Dan malam itu, Luna menatap langit dari jendela
kamarnya.
Ia melihat bintang jatuh.
Lalu tersenyum.
Dan mengucapkan satu harapan, pelan-pelan, dalam hati:
"Semoga semesta mempertemukanku dengan orang
yang bisa aku rasakan… bahkan sebelum aku kenal dia."
Komentar
Posting Komentar